Detak Papua
NEWS TICKER

AKHIRI MASA RESES KE-3′ DIWARNAI DENGAN PELUNCURAN BUKU BERJUDUL “INILAH SEKELUMIT PAPUA”

Senin, 4 Oktober 2021 | 3:02 pm
Reporter: Daniel eluay
Posted by: Detak Papua
Dibaca: 97

Insert : Penulis Buku Dorlince Mehue, Anggota MRP (Pokja Agama) saat memberikan buku kepada Deputi V KSP RI Jaleswari Phramodhawardani, di Aula Hotel Suny Lake Sentani,(daniel).

 

Sentani – Jayapura | DetakPapua com||Anggota Majelis Rakyat Papua (MRP) Dorlinche Mehue, didampingi Dwi Urip Pramono beberapa waktu lalu malakukan kegiatan masa reses ke tiga (3) di Hotel Suni Lake Sentani. Kegiatan ini dirangkai bersamaan dengan peluncuran buku  INILAH SEKELUMIT PAPUA. Buku sekelumit Papua ini rencananya akan dibagikan kepada seluruh kontingen yang hadir pada kegiatan PON XX Papua.

Turut hadir pada kegiatan peluncuran buku ini antara lain, Deputi V KSP RI Jaleswari Pramodhawardani, Stafsus KSP RI Laus Rumayomi, sejumlah  organisasi, seperti organisasi keagamaan, organisasi wanita, akademisi, tokoh adat dan tokoh perempuan. Setelah dilakukan peluncuran buku, dilanjutkan dengan bedah buku dan tanya jawab antara penulis dan tamu undangan yang hadir.

Kepadawa jurnalis Sang penulis buku “Inilah Sekelumit Papua”, Dorince Mehue, mengatakan, buku yang ditulis tersebut terinspirasi dari hasil kunjungan kerja dan semua persoalan, fenomena serta dinamika yang terjadi di Tanah Papua.

 “Saya juga berusaha untuk bagaimana bisa menceritakan dan menyampaikan kepada semua orang, bahwa Papua sebenarnya tanah yang luar biasa dan Papua memang banyak sekali fenomena maupun dinamika. Tetapi, Papua adalah tanah di mana Tuhan tempatkan kami orang Papua dan semua orang bisa hidup berdampingan,” kata Mehue.

Ibu Dori sapaan akrab Dorlince Mehue,  juga menyampaikan bahwa buku ini ditulis dengan dasar inspirasi hasil kunjungan kerja selama melakukan masa reses sebagai Anggota MRP Pokja Agama di daerah Provinsi Papua.

“Terdapat sembilan bab dalam buku tersebut, yakni, perjalanan menjadi Papua, menepis stereotipikal dan anggapan ketertutupan, suku-suku dan wilayah adat Papua, tiga dimensi Otonomi Khusus Papua, Perempuan Papua di antara kerentanan dan ketangguhan, membangun toleransi dan harmoni antar-umat beragama berdasarkan kasih, aneka pemandangan dan interaksi sosial di pasar tradisional, sepotong surga kecil di ujung bumi dan membangun generasi masa depan yang berkualitas,” pungkasnya.

“Jadi buku yang saya tulis ini memuat sembilan bab, yang dimulai dari sejarah perjalanan menjadi Papua. Bagaimana generasi hari ini bisa mengetahui sejarah lahirnya Papua, sejarah peradaban tanah dan orang Papua sejak 1855 sampai dengan saat ini. Nah, dari situlah menginspirasi banyak hal yang harus kita sampaikan pada dunia,”

Selain itu, dikatakannya, bahwa dari bab pertama karyanya ini kemudian disusun berdasarkan kesan dan pandangan dari orang luar Papua terhadap Papua itu sendiri. “Papua dikenal sebagai daerah konflik dan selalu berpikir yang negatif. Dari semua respon tadi kita semua bisa dengar, tetapi sesuatu yang negatif tidak harus terus-menerus kita berpikir dengan cara negatif. Namun bagaimana kita harus optimis untuk merubah Papua kepada hal yang positif atau benar.

Oleh karena itu, saya mulai mengangkat tanah Papua dengan segala kekayaannya dan berbagai macam karakteristik budaya maupun manusianya dari tujuh wilayah adat, dengan segala kekayaan sumberdaya alamnya, baik yang di dalam tanah maupun di luar tanah Papua,” tegasnya. Menurutnya, budaya dan sumberdaya alam di Papua sangat kaya dan khas dengan segala potensinya. Dia pun berharap, kegiatan peluncuran buku tersebut dapat menjadi referensi untuk semua pihak bisa melihat guna membangun sebuah harapan yang baru bagi tanah Papua kedepan dan seluruh kekayaan alam Papua itu bisa dilihat untuk memanfaatkan guna kepentingan, kesejahteraan dan kemakmuran orang Papua.

“Terkait dengan event negara, ini juga memberikan inspirasi kepada saya agar bagaimana saya harus menulis buku atau bercerita di dalam buku ini lalu membagikan buku ini kepada semua orang yang datang ke Papua. Semoga buku ini akan mempromosikan tanah Papua kepada semua orang yang datang di atas tanah ini,” tutup Dorince Mehue. (daniel

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Name *

© 2020 Detak Papua. All Rights Reserved.
Design by Velocity Developer