Detak Papua
NEWS TICKER

IKUT PAMAN KE JAKARTA TANPA SEPENGETAHUAN ORANG TUA: SISWA SMA ALAMI PELECEHAN SEKSUAL

Kamis, 4 November 2021 | 5:43 am
Reporter: DANIEL ELUAY
Posted by: Detak Papua
Dibaca: 209

insert :Ketua Bidang Organisasi dan Pengkaderan Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Provinsj Papua. Pdt. Jake Meril Ibo, S.Th., M.Si, ketika diwawancarai awak media,(daniel).

Sentani – Jayapura | DetakPapua.com.||Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Provinsi Papua, mendesak aparat Kepolisian segera meyelesaiakan dugaan tindakan asusila kepada empat orang siswi SMA di Jayapura Papua dengan benar, sesuai Undang-Undang Perlindungan Anak.

LPAI Papua, akan terus mengusut agar pejabat yang diduga telah melakukan tindakan asusila terhadap 4 orang siswi SMA ini, agar diberikan ganjaran yang berat atas tindakan kekerasan verbal yang dilakukan karena hal ini dinilai tidak manusiawi.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Provinsi Papua dan Papua Barat IDAM KHALIB, melalui Ketua Bidang Organisasi dan Pengkaderan Lembaga Perlindungan Anak Indonesia wilayah Papua, Pdt. Jake Merril Ibo, S.Th.M.Si., meminta penyelesaian kasus tindakan asusila yang diduga melibatkan pejabat publik  segera diproses hukum.

” Jika penanganan kasus ini tidak dapat diselesaikan sampai tuntas, maka LPAI Provinsi Papua & Papua Barat akan melaporkan kasus ini kepada DIVPROPAM Mabes Polri,” kata Jake Meril.

Pdt. Jake Meril Ibo, S.Th.M.Si, yang juga dipercayakan sebagai Ketua Pusat Bantuan Mediasi GKI, menegaskan, pihak keamanan untuk bertindak tegas dan transparan dalam menyelesaikan kasus ini. Karena kasus tindakan asusila disertai kekerasan terhadap anak termasuk pelanggaran berat. Kasus tindakan kekerasan seksual terhadap anak ini tidak bisa diselesaikan melalui pendekatan restorasy justice atau melalui mediasi ataupun musyawarah,” harus diproses hukum.”

” Sesuai Kronologi, siswi Sekolah Menegah Atas (SMA) ini diajak oleh pamannya ke Jakarta, bersama tiga orang teman lainnya pada April 2020 silam. Tujuan mereka ke Jakrta ini diketahui hanya untuk sekedar berjalan-jalan. Kepergian  para Siswa SMA ini juga tidak diketahui oleh orang tua mereka. Sesampainya di Jakarta siswa sekolah ini kemudian diajak ke sebuah cafe dan diberikan minuman ber-alkohol hingga mabuk. Dalam keadaan mabuk tersebutlah terjadi tindakan asusila terhadap sisw-siswi SMA tersebut. Sesuai informasi yang diperoleh media ini. salah satu korban  mengalami tindakan asusila disertai kekerasan oleh oknum pejabat pemerintah.

Bukan hanya mengalami tindakan kekerasaan seksual, para korban juga dilarang memberitahukan tindakan amoral tersebut kepada siapa pun, termasuk keluarga mereka.”

Orang tua korban sempat membuat laporan polisi tentang hilangnya anak mereka. Namun  akhirnya para orang tua korban ini mengetahui jika anak mereka dibawa oleh pamanya ke Jakarta. Setelah mengetahui perbuatan bejat pejabat Pemerintah tersebut, orang tua korban didampingi kuasa hukum hendak membuat laporan polisi terkait kasus tindakan asusila ini, namun upaya mereka mendapat ancaman dari salah satu anggota Polri yang bertugas di Polsek Padang Bulan.

Meril Ibo, menjelaskan bahwa Sesuai Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak terutama Bab VII Ketentuan Pidana, ayat 81. (1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, dipidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).

LPAI Papua, meminta kepada pimpinan Polri agar dapat menindak tegas Anggota Polri yang melakukan ancaman kepada keluarga korban dan pengacara. Tugas Polri adalah melindungi dan mengayomi masyarakat, bukan melindungi dan mengamankan pelaku. Hal ini berkaitan dengan UU Perlindungan anak.

” Bukan sebuah pendidikan publik yang baik jika kasus pidana berat seperti ini diselesaikan secara damai, dimana orang tuanya menerima kompensasi uang 3 milyar dan kenaikan jabatan di kantornya,”

” Sekali lagi penyelesaian kasus pelanggaran terhadap anak tidak bisa diselesaikan melalui restorasy justice,  LPAI Provinsi Papua akan terus mendesak pihak Kepolisian agar memberikan  ganjaran yang sepatutnya kepada pelaku. Jika hal ini dibiarkan, generasi bangsa ini akan mewarisi moral yang rusak karena sudah tidak ada lagi etika akibat pembiaran seperti ini. “Ini korban ekploitasi’ dan Negara dalam hal tidak boleh melindungi pembuat kejahatan, akan jadi apa anak – anak dimasa depan.” tutup Ibo. (daniel)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Name *

© 2020 Detak Papua. All Rights Reserved.
Design by Velocity Developer