Detak Papua
NEWS TICKER

WARGA BERHARAP ADA “KOMPENSASI” DARI PT.SDIC PAPUA CEMENT INDONESIA

Tuesday, 13 April 2021 | 10:12 pm
Reporter: Jimmy Maloali
Posted by: Detak Papua
Dibaca: 197

Mulyanus Dowansiba,S.IP, Tokoh Masyarakat Kampung Hingk Distrik Warmare Kabupaten Manokwari

Detakpapua.com.-Hadirnya PT.SDIC Papua Cement Indonesia sebagai salah satu pabrik Semen skala Nasional diakui lebih kurang mempengaruhi aspek kehidupan masyarakat di sekitar lokasi pabrik. Hal ini terungkap ketika media ini mencoba untuk mewawancarai Mulyanus Dowansiba, salah satu tokoh masyarakat kampung Hingk distrik Warmare.

Menurut Mulyanus Dowansiba, hadirnya PT.SDIC Papua Cement  awalnya sangat di syukuri warga,dengan pikiran sederhana bahwa hadirnya perusahaan setidaknya akan menjawab beberapa hal yang selalu menjadi masalah masyarakat di kampung, seperti masalah tenaga kerja, masalah  ekonomi warga, dan masalah sosial lainnya. Karena menurut apa yang diketahuinya dimana ada perusahaan, tentunya ada pemberdayaan bagi masyarakat lokal.

Kepada detakpapua.com,dirinya mengungkapkan hadirnya perusahaan semen Conch sangat jauh dari apa yang dharapkan masyarakat. “Tidak ada pemberdayaan masyarakat, tidak ada perhatian serius dari perusahaan akan akibat kerusakan lingkungan yang ditimbulkannya, ini perusahaan skala negara, “Kami ini manusia, kami juga punya hak yang sama dengan manusia lainnya” ujarnya serius. Ia, mencontohkan salah satu dampak yang paling nyata adalah pendangkalan yang terjadi di danau warbideri. Pendangkalan itu terjadi karena longsoran material akibat eksploitasi diatas gunung kapur.

Pegawai Negeri pada dinas Perumahan Kabupaten Pegunungan Arfak ini menyampaikan, sebelum perusahaan Semen Conch masuk di wilayah Maruni, danau ini cukup memproduksi ikan air tawar. Sekarang sudah tidak ada lagi ikan yang bisa di ambil untuk di jual oleh masyarakat, sehingga masyarakat di untugkan secara ekonomi. Ia mencontohkan dirinya sendiri salah satu warga yang pernah merasakan manfaat danau warbideri karena ikan yang diperoleh dari danau ini bisa dijual dan hasilnya digunakan untuk kebutuhan sekolahnya bahkan sampai kuliah.

Selain masalah Pendangkalan danau warbideri, Mulyanus yang merupakan tokoh masyarakat di kampung Hingk juga menyampaikan masalah lingkungan khususnya perubahan-perubahan yang terjadi pada tanaman. Ia, mencontohkan pohon-pohon pisang yang mengalami kekeringan; hal ini menurutnya sudah dilaporkan ke Bupati Manokwari.

Selain mengutarakan persoalan lingkungan, Mulyanus yang merupakan salah satu alumni ilmu sosial politik dari salah satu kampus di kota studi Yogyakarta ini juga mengutarakan beberapa keluhan warga kampung Hingk soal kesehatan,seperti gatal-gatal pada kulit dan gangguan pernafasan. Ditanya terkait turun lapangan beberapa OPD tanggal 7 April lalu ke Kampung Hingk, pihaknya mengakui sudah bertemu dan berdiskusi dengan utusan dari masing-masing dinas seperti dinas lingkungan hidup, dinas PU dan dinas Kesehatan, dan masyarakat sedang menunggu tindak lanjut dari pemerintah daerah kabupaten manokwari.

Selanjutnya media ini mencoba menggali lebih jauh apa yang menjadi keinginan warga saat ini terhadap pemerintah dan Perusahaan Semen Conch? Ia menjawab dengan tegas, yang diperlukan masyarakat adalah perhatian pemerintah dan perusahaan Conch. “Kami perlu hidup yang layak, kalo perusahaan ada di wilayah kami, kami, minta diperhatikan, minimal memperhatikan lingkungan kami. Ada perusahaan besar berskala nasional, tapi lingkungan warga sekitar sangat memprihatinkan, seharusnya pemerintah tahu dengan keadaan kami dikampung ini, dan segera mengambil langkah-langkah strategis dalam upaya melindungi warga masyarakat. kemudian perusahaan juga harus punya tanggung jawab untuk memajukan masyarakat, karena kami masyarakat yang langsung kena dampaknya sejak perusahaan ini beroperasi.”

Lebih lanjut Mulyanus juga menyampaikan seharusnya ada kompensasi yang diterima warga dengan dampak yang diakibatkan oleh perusahaan semen Conch ini. Sebab warga sudah tidak bisa lagi mencari ikan, dan juga tidak nyaman lagi dalam bercocok tanam karena adanya debu yang dihasilkan oleh asap pabrik. Selain mengusulkan kompensasi, ia juga berharap jika berkenan anak-anak Kampung Hingk bisa di berikan beasiswa untuk sekolah ke Cina, sebagai salah satu perhatian pemerintah dan perusahaan kepada masyarakat terdampak usulnya.

Karena 30 tahun akan beropreasi di kawasan Maruni maka ia berharap agar perusahaan dapat membangun jalan kampung serta rumah layak huni bagi masyarakat entah bagaimana caranya biar pemerintah dan pihak perusahaan memikirkannya, ucapnya menutup wawancara bersama detakpapua.com.(mj)

Berita Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

© 2020 Detak Papua. All Rights Reserved.
Design by Velocity Developer